Isteri Nabi Nuh as


“Allah membuat perumpamaan bagi orang yang ingkar:

Isteri Nuh dan isteri Luth, mereka adalah isteri dua orang hamba di antara hamba-hamba Kami yang soleh. Tapi mereka berkhianat (kepada suami-suaminya).

Maka, mereka tiada berdaya membantu mereka sedikit pun terhadap seksaan Allah.

Kepada mereka dikatakan: “Masuklah kamu ke dalam neraka Jahannam bersama orang yang masuk ( ke dalamnya)!” (At-Tahrim: 10)

Seorang wanita bangun dari tidurnya, dan langsung menuju dapur untuk
membuat makanan dan kueh-kueh. Setelah semua pekerjaan itu selesai,
ia segera keluar rumah tanpa memberitahu suaminya, Nabi Nuh.

Sebelum pintu rumahnya terbuka, tiba-tiba anak-anaknya yang masih muda,Kan’an, menegurnya: “Mahu ke mana Ibu pagi-pagi ini?”

Ibu mengisyaratkan sesuatu agar anaknya merendahkan suara, supaya tidak terdengar oleh orang lain.Lalu berkata:
“Lupakah kamu, Kan’an, bahwa hari ini adalah hari raya tuhan-tuhan kita? Aku akan pergi ke Makbad Besar. Di sana kaum kita telah menunggu untuk bersama-sama melaksanakan penyembahan kepada tuhan yang telah memberi rezeki dan menolong kita.”

Kan’an memandang ibunya dengan wajah tersenyum, dan kemudian berkata: “Ibu berbuat yang terbaik. Nanti aku akan menyusul ke sana, sebab bukankah ibu tahu bahwa ayah tidak senang melihat kita bekerjasama dalam hal ini.”

Pergilah isteri Nuh ke Makbad Besar itu. Sesampainya di sana, ia segera berdiri di depan berhala dan berucap:

“Wed, Suwa, Yaghuts ya’uq, dan Masr…” (nama-nama, berhala) la kemudian memohon, berdoa, mendekatkan diri, dan mempersembahkan makanan serta minuman bagi para penjaga yang mulai menyuarakan kalimat-kalimat yang tidak dapat difahami maksudnya. Kemudian mereka menunjukkan kepada tuhan-tuhan,dan sekali lagi menunjuk kepada orang-orang yang mempersembahkan korban dan mengangkatwajah mereka dengan mata terpejam, agar orang yang mempersembahkan korban itu merasa bahwa Tuhan senang dan rela kepada mereka.

Isteri Nabi Nuh melihat, dan ia dapati puteranya Kan’an, telah keluar dari ruangan sembahan menuju arena tarian di sebelah Makbad. Di tempat itu, kaum lelaki dan perempuan bercampur menjadi satu; melakukan perbuatan-perbuatan sesuka hati mereka sambil bersukaria. Melihat itu, sang ibu merasa cemas dan khuatir terhadap keadaan anaknya. Diserunya Kan’an agar kembali kepadanya, tetapi Kan’an malah bersembunyi di tengah-tengah keramaian itu tatkala ia mendengar panggilan ibunya. Karena Kan’an tidak kembali setelah lama dipanggil, sang ibu segera kembali menuju berhala-berhala dan mulai berdoa lagi.Ia tidak ingin menyibukkan diri dengan urusan anaknya itu. Sambil berdoa, ia mengeluarkan secarik kain yang telah disapu wangi-wangian dari bungkusannya, dan kemudian diletakkannya di kaki berhala. Itulah pekerjaan yang biasa dilakukannya.

Waktu berlalu dengan cepat, dan upacara penyembahan akhirnya selesai. Isteri Nabi Nuh kemudian kembali ke rumahnya. Dalam perjalanan pulang, ia bertemu dengan anaknya, Kan’an, yang wajahnya tampak masam air mukanya. Cepat-cepat ia mendekati anaknya itu dan berkata: “Apa
yang sedang kamu fikirkan, Puteraku?”

“Tahukah ibu, apa yang telah dilakukan Nuh, ayahku?” Kata Kan’an.
“Apa yang ia perbuat, Kan’an?” Tanya ibunya dengan wajah penuh kesedihan.

“Ia menyeru umat di pasar, dan orang-orang di sekelilingnya, dan membantah apa yang diserukan mereka!” Jawab Kan’an.

“Apa yang telah dilakukannya di pasar?” Tanya ibunya kemudian! Apakah ia hendak menjual kayu-kayu yang ia jadikan perkakas rumah?”

Anaknya menjawab: “Aku telah mendengar bahwa ia berkata: `Hai,kaumku, sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang nyata bagimu; maka sembahlah Allah, bertakwalah dan taatlah kepadaNya.”

Isteri Nabi Nuh memandang Kan’an seraya berkata: “Kalau begitu, ayahmu tidak menghendaki kita menyembah tuhan-tuhan yang memberi rezeki dan memelihara kita.”

“Sesungguhnya ia benci akan hal itu dan bahkah menghinanya. Ia tidak pernah bersedia mempersembahkan korban kepada tuhan-tuhan yang biasa kita lakukan,” jawab Kan’an.

Isteri Nuh dan anaknya pulang ke rumah. Sepanjang jalan keduanya lebih banyak membisu. Tetapi kemudian Kan’an memecahkan kesunyian itu dengan bertanya:

“Apakah yang akan kita lakukan ibu, bila ayah menyeru kita seperti yang ia serukan kepada kaum negeri ini?”

“Tuhan-tuhan akan mengutukmu, Kan’an, jika engkau turuti seruan ayahmu itu!” Jawab ibunya. “Apakah kita akan meninggalkan agama kita dan agama nenek moyang kita hanya karena ayahmu menyerukan yang lain? Tidak! Sesungguhnya hal itu tidak boleh terjadi!”

Sebelum tengah malam tiba, Nabi Nuh telah sampai di rumahnya. Semalaman isteri dan anak Nuh tidak dapat memejamkan mata. Nabi Nuh meletakkan tongkatnya di dinding rumahnya, kemudian duduk. Tidak lama, isterinya mendekati dan berkata: “Mengapa engkau terlambat pulang sampai larut malam?”

“Aku mesti menyampaikan risalah yang diperintahkan Allah kepadaku.” Jawab Nabi Nuh.

“Risalah apakah itu, Nuh?” Tanya isterinya.

Nabi Nuh menjawab: “Agar manusia menyembah Tuhannya dan meninggalkan penyembahan kepada berhala-berhala.”

“Kamu telah bertahun-tahun hidup bersama kami,” sahut isterinya kemudian. “Tetapi kini kamu berselisih dengan apa yang disembah oleh kaummu. Maka, bagaimanakah mereka akan percaya kepadamu, yang tiba-tiba mengatakan bahwa Allah telah mengutusmu kepada mereka dengan membawa suatu risalah dan menyeru mereka untuk meninggalkan sembahannya?”

Nabi Nuh menjawab:

“Allah telah memilihku untuk menjalankan tugas ini bila saja Dia kehendaki. Kumpulkan ke mari anak-anak kita, aku akan menunjukkan kepada mereka tentang risalah yang kubawa ini,sebagaimana yang telah kuserukan kepada manusia!”

Isteri Nuh tidak bergerak dari tempatnya, sementara anaknya Kan’an, telah duduk di sampingnya.

Ia kemudian berkata kepada Nabi Nuh: “Anak-anakmu sedang tidur. Tundalah hal itu sampai datang waktu pagi!”

Kalau begitu, aku akan menyampaikan masalah ini kepada kalian berdua lebih dahulu.”

“Mengapa kamu tergesa-gesa dalam urusan ini, tidurlah sampai esok pagi!” Sahut isterinya.

“Tidak!” Kata Nabi Nuh. “Aku harus melaksanakan tanggungjawabku terhadap Allah. Sesungguhnya kamu berdua adalah ahli baitku, dan aku harus menjadi orang yang menyeru kamu berdua pertama kali. Bersaksilah bahwa Allah itu satu, tidak ada sekutu bagi-Nya dan tinggalkanlah semua yang kamu sembah kecuali Allah.”

Mendengar itu Kan’an melihat ke arah ayah dan ibunya. Sang ibu pula memandang kepadanya seraya mengangguk dan berkata:

“Kami tidak akan meninggalkan penyembahan tuhan-tuhan kami dan tuhan-tuhan kaum kami semua.”

Dan Kan’an pula berkata, setelah, mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya itu: “Wahai, ayah, kulihat ayah menolak ucapannya.”

Nabi Nuh menjawab:

“Tidak mungkin aku akan meninggalkan risalah yang dibebankan oleh Allah kepadaku untuk kusampaikan kepada umat manusia? Kamu berdua terus-menerus menyembah batu dan kayu yang tidak dapat mendatangkan mudarat ataupun manfaat; dan kamu enggan menyembah Tuhan yang Maha Esa lagi Berkuasa.”

Mendengar perdebatan itu, anak-anak Nabi Nuh yang lain terbangun dari tidurnya. Mereka semua bangun dan menghampiri ketiga orang itu, untuk mengetahui masalah yang sebenarnya terjadi.

Melihat itu sang ibu segera berkata kepada mereka semua.

“Ayahmu menghendaki agar kita meninggalkan tuhan-tuhan yang biasa kita sembah untuk kita menyembah tuhannya yang ia katakan telah mengutusnya untuk membimbing manusia.”

“Siapakah Tuhanmu itu, ayah?” Tanya anak-anak Nabi Nuh kepada ayah mereka.

“Dia adalah Pencipta langit dan bumi serta semua makhluk yang ada di atas alam ini. Dialah yang memberi rezeki, mematikan semua manusia di hari perhitungan (kiamat),” jawab Nabi Nuh.

“Di manakah Dia berada,Ayah? Apakah Ia berada di Makbad besar bersama tuhan-tuhan yang biasakami sembah?” Tanya salah seorang di antara anak-anak Nabi Nuh.

“Anak-anakku,” kata Nabi Nuh:

“Sesungguhnya Allah tidak dibatasi oleh ruang atau waktu. Dia adalah Pencipta ruang dan waktu itu sendiri. Dia tidak dapat dilihat oleh mata kita.”

“Jika demikian, bagaimana kita mengetahui bahwa Dia ada?” Tanya yang lain.

Nabi Nuh menjawab:

“Dari tanda-tanda kekuasaan-Nya atas segala sesuatu dari ciptaan-Nya dan pengadaan-Nya, dari langit yang ditinggikan-Nya tanpa tiang; dari bumi yang dihamparkan-Nya dan di dalamnya terdapat sungai-sungai dan lautan; dari hujan yang tercurah dari langit dan menumbuhkan tanaman yang memberikan sumber rezeki manusia dan haiwan-haiwan; dan dari kekuasaan-Nya menciptakan manusia dan mematikan mereka; yang semua itu ada di hadapan kita.”

Mendengar itu, anak-anak Nabi Nuh serentak berkata:

“Allah telah melapangkan hati kami untuk menerima kebaikan yang ayah serukan.”

Betapa terperanjatnya hati isteri Nabi Nuh tatkala mendengar pengakuan terus terang anak-anaknya akan risalah yang diserukan Nabi Nuh. Ia segera bangkit dari duduknya dan menghampiri Kan’an, sambilberkata kepada suaminya.

“Telah rosak akal anak-anakmu dengan seruan itu. Tuhan kami akan mengutu dan menurunkan seksa kepadamu!”

Ketika wajah anak-anak mereka menampakkan kehairanan Nabi Nuh menjawab:

“Nanti kamu akan mengetahui bahwa berhala-hala itu tidak berkuasa memberikan manfaat dan tidak kuasa pula menolak kemudaratan atas dirinya. Bagaimana ia akan berkuasa berbuat sesuatu kepada yang lain?”

Isteri Nabi Nuh tidak berhenti dalam usaha menghalang-halangi dakwah kebajikan yang diserukan oleh Nabi Nuh kepada kaumnya. Setiap datangnya jiran tetangga yang hendak beriman kepada ajaran Nabi Nuh, dan meminta pendapat isteri Nabi Nuh dalam hal itu, isteri Nabi Nuh selalu mencadangkan orang-orang itu agar tidak mengikuti seruan suaminya.

Bahkan ia berkata kepada mereka:

“Sekiranya seruan Nuh itu baik, nescaya aku dan anakku, Kan’an mengikutinya.”

Dengan Jawapan isteri Nabi Nuh itu, pulanglah para tetangga itu dengan hati yang yakin, dan hilanglah keraguan terhadap tuhan-tuhan yang biasa mereka sembuh.

Beberapa tahun telah berlalu, dan isteri Nabi Nuh bukannya semakin condong kepada ajaran suaminya. Rasa ertentangannya dengan Nabi Nuh bahkan semakin besar dan kuat. Bersama berlalunya waktu, isteri Nabi Nuh semakin berpaling dari seruan kebenaran yang disampaikan oleh suaminya.

Ia berkata kepada Nabi Nuh:

“Tidak ada yang mengikutimu kecuali hanya beberapa orang miskin. Sekiranya bukan karena kemiskinan yang mereka derita, nescaya mereka tidak akan mengikutimu. Bukankah hal ini cukup menjadi bukti bagimu bahwa seruanmu itu batil? Semua orang memperolok-olokkanmu. Maka sebaiknya kamu hentikan seruanmu itu kepada manusia….”

Meskipun demikian, Nabi Nuh tetap berjalan di atas kebenaran Ilahi yang menuntut kepada kebajikan. Ia pikul semua penderitaan dan kejahatan orang yang merintanginya untuk menyampaikan risalah Tuhannya, meskipun bertahun-tahun jumlah kaum mukminin tidak lebih dari seratus orang.

Nabi Nuh selalu berdoa kepada Allah:

“Ya Tuhanku, sesungguhnya aku telah menyeru kaumku malam dan siang. Maka seruanku itu hanya membuat mereka lari dan semakin menjauh.Dan sungguh, setiap kali aku menyeru mereka agar engkau mengampuni mereka, mereka memasukkan anak jari ke dalam telinganya dan menutup dirinya dengan pakaiannya dan mereka tetap ingkar dan menyombongkan diri dengan keangkuhan. Kemudian kuseru mereka dengan terang-terangan. Dan berbicara kepada mereka di halayak ramai, dan juga dengan diam-diam. Maka, aku katakan kepada mereka:

“Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sungguh, Dia MahaPengampun. Nescaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun, dan mengadakan (pula di dalamnya) sungai-sungai untukmu. Mengapa kamu tidak percaya akan kebesaran Allah? Padahal sesungguhnya……Dia telah menciptakan kamu dalam beberapa tingkat kejadian?

Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah menciptakan tujuh langit bertingkat-tingkat? Dan Allah menciptakan padanya bulan sebagai cahaya, dan menjadikan matahari sebagai pelita? Dan Allah menumbuhkan kamu dari tanah dengan sebaik-baiknya, kemudian dia mengembalikan kamu ke dalam tanah dan mengeluarkan kamu (darinya pada hari (kiamat) dengan sebenar-benarnya?

“Dan Allah menjadikan bumi untukmu sebagai hamparan supaya kamu melalui jalan-jalan yang luas di bumi itu?”

Nuh berkata:

“Ya, Tuhanku, sesungguhnya mereka telah menderhakaiku,dan telah mengikuti orang-orang yang harta dan anak-anaknya tidak menambah kepadanya melainkan kerugian belaka. Dan melakukan tipu daya yang amat besar.”

Dan mereka berkata:

“Jangan sekali-kali kamu meninggalkan(penyembahan) tuhan-tuhan kamu dan jangan pula sekali-kali kamu meninggalkan (penyembahan) Wadd dan jangan pula Suwa, Yaghuts, Ya’uq, dan Nasr.”

“Dan sesungguhnya mereka (sembahan-sembahan berhala) telah
menyesatkan orang ramai. Maka, janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang yang zalim itu selain kesesatan.”
(Lihat surah Nuh ayat 5-24)

Allah memerintahkan Nabi Nuh membuat sebuah bahtera. Pada suatu hari, isteri Nabi Nuh melihat suaminya mendatangkan kayu-kayu dan menyuruh para pengikutnya agar meletakkan
kayu-kayu itu di tengah-tengah kota, padahal kota itu jauh dari laut dan sungai.

Maka, bertanyalah sang isteri kepada suaminya. “Apakah yang akan engkau perbuat dengan semua kayu ini, Nuh?”

“Aku akan membuat sebuah bahtera,” jawab Nabi Nuh.

“Mengapa engkau membuat bahtera, sedangkan di sini tidak ada lautan atau sungai yang dapat melayarkannya?” Tanya isteri Nabi Nuh.

Nabi Nuh menjawab: “Bahtera ini akan belayar ketika datang perintah Allah.”

Kembali isteri Nabi Nuh menyanggahnya: “Bagaimana orang yang berakal akan percaya dengan ungkapanmu itu?”

“Nanti engkau akan melihat bahwa hal itu akan terjadi,” kata NabiNuh.

Setelah beberapa langkah isteri Nabi Nuh meninggalkan tempat itu, ia masih sempat bertanya sekali lagi: “Apakah bahtera ini akan berlayar di atas pasir?”

Nabi Nuh menjawab dengan penuh keyakinan: “Tidak! Tetapi banjir akan menenggelamkan bumi dan orang-orang yang menentang kami, dan kaum mukminin akan selamat di atas bahtera…”

Maka, pergilah isteri Nabi Nuh untuk menyelesaikan urusannya. Dia tidak percaya sedikit pun pada apa yang dikatakan suaminya itu.Walaupun begitu, ia sebenarnya merasa hairan kepada berita yang disampaikan oleh Nabi Nuh.

Ia bertanya-tanya kepada dirinya sendiri. “Nanti akan engkau saksikan, apakah Nabi Nuh akan membiarkanmu berlayar bersamanya di atas bahtera!”

Belum selesai ia memikirkan hal yang menghantui fikirannya itu,terdengar suara Kan’an memanggilnya. “Apakah bahtera itu, ibu?”

Maka, ibunya mengisahkan peristiwa dialog antara dirinya dan Nuh, dan mengkhabarkan pula kepada Kan’an bahwa ayahnya akan membuat sebuah bahtera di tengah kota. Kan’an nyaris tidak mendengar semua cerita ibunya, karena ia menjadi tertawa terbahak-bahak tiada henti.

Kemudian ia berkata: “Kalau begitu, benar apa yang dikatakan orang tentang ayahku!”

Isteri Nabi Nuh memandang anaknya sambil menyesali dirinya. “Aduhaimalangnya nasib yang membuatku menjadi isteri lelaki itu selama bertahun-tahun. Berapa lama lagi aku harus menanggung sengsara dan celaka seperti ini?”

Kemudian ia membawa anaknya pergi ke Makbad Besar.Di Makbad Besar, sekelompok orang sedang berbantah-bantah tentang
Nabi Nuh. Melihat isteri Nabi Nuh dan Kan’an datang mereka segera berkelompok di sekelilingnya dan berkata kepadanya. “Benarkah berita yang sampai kepada kami bahwa Nuh akan membuat sebuah bahtera?”

“Hal itu aku dengar dari mulut Nuh sendiri,” jawab isteri Nabi Nuh.

Bertambahlah kemarahan orang-orang itu. Jika hal itu dimaksudkan sebagai olok-olok Nuh kepada mereka, maka mereka akan mengusir Nabi Nuh dari negeri mereka. Kaum Nabi Nuh tersebut kemudian pergi ke tengah kota. Di sana Nabi Nuh sedang mempersiapkan kayu-kayu untuk dibuat bahtera. Di sekelilingnya ada sekelompok orang-orang yang beriman kepadanya yang membantunya menyediakan kayu-kayu itu.

Sementara itu, kaum Nabi Nuh mulai mengolok-oloknya. Salah seorang dari mereka berteriak. “Baiklah, Nuh! Nyata sekali bahwa kamu akan datang dengan membawa bahtera kepada kami di sini, sehingga kami dapat naik bahtera yang kamu buat di atas padang pasir yang tandus ini!”

Suara yang lain terdengar: “Baiklah, Nuh! Apakah kamu akan menyuruh kaum mukminin untuk datang kepadamu dengan membawa bekas-bekas yang penuh air untuk dituangkan ke bawah bahtera ini sehingga engkau dapat membuat sebuah kolam yang di atasnya bahteramu belayar?”

Yang lain lagi berseru.” Hal itu tentu saja akan memakan waktu beberapa ratus tahun, tahukah kamu, Nuh?”

Kemudian di antara mereka ada yang tertawa sambil mengejak Nabi Nuh.”Dan semua air akan diserap oleh pasir…”

Nabi Nuh tidak memberikan jawapan terhadap ejekan-ejekan dan cemuhan-cemuhan mereka itu melainkan hanya berucap dengan beberapa kalimat pendek: “Jika kamu memperolok kami, kami pun akan memperolokkan kamu,sebagaimana kamu memperolokkan kami! Tapi kamu akan sedar, kepada siapa akan datang azab yang meliputi dirinya dengan kehinaan. Dan kepada siapa akan turun azab yang tiada akhirnya.”
(Surah Hud ayat 38-39)

Beberapa tahun telah berlalu. Nabi Nuh telah menyelesaikan bahtera ciptaannya. Sementara itu, ejekan yang datang dari kaum di sekelilingnya tidak berhenti, siang dan malam. Isteri Nabi Nuh dalam hal itu selalu memberitahu kaum musyrikin tentang kesedihan suaminya selama itu. Mendengar berita itu, makin bertambahlah kegembiraan hati mereka.

Pada suatu hari, isteri Nabi Nuh terbangun dari tidurnya karena sesuatu yang menggelisahkan hatinya. Di rumahnya, Nabi Nuh mengumpulkan setiap jenis haiwan dan burung, masing-masing sepasang. Melihat perbuatan Nabi Nuh itu, isterinya bertanya. “Nuh, apa yang kamu lakukan? Dan ke mana kamu akan pergi dengan semua haiwan dan burung itu? Apakah kaum mukminin yang bersamamu akan makan haiwan-
haiwan dan burung-burung itu, dan engkau tinggalkan kami di sini tanpa apa-apa?”

“Tuhanku telah memerintahkan kepadaku untuk membawa haiwan-haiwan dan burung-burung di dalam bahtera!” Jawab Nabi Nuh.

Dengan agak pelik, isteri Nabi Nuh bertanya: “Bagaimana Tuhanmu memerintahkan seperti ini?”

Nabi Nuh menjawab: “Kelak akan kubawa setiap pasang inatang dan semua kaum mukminin di dalam bahtera ini, dengan kebenaran yang diperintahkan oleh Tuhanku kepadaku.”

Isteri Nabi Nuh tidak mahu diam. Ia bahkan berusaha membantah sambil berkata: “Apa yang akan kamu lakukan dalam bahtera itu? Apakah kalian akan meninggalkan rumah dan hidup bersama haiwan-haiwan dan burung-burung ini?”

Nabi Nuh menjawab: “Kelak air akan menenggelamkan segala sesuatu, dan tidak ada yang akan selamat kecuali siapa yang naik ke atas bahtera ini, kemudian memulai kehidupan baru yang muncul dengan fajar keimanan!”

Kali ini isteri Nabi Nuh benar-benar merasa takut dan ngeri dengan ucapan suaminya itu. Namun, karena keingkarannya telah keras membatu,ia tetap berusaha menekan rasa takutnya itu. Segera ia pergi untuk memberitahu kaumnya tentang yang diperbuat suaminya. Maka, bertambah keraslah ejekan mereka kepada Nabi Nuh dan apa yang diperbuatnya.

Ketika datang masa yang dijanjikan oleh Allah, terperanjatlah kaum Nabi Nuh melihat datangnya banjir yang besar serta merta. Pintu-pintu langit terbuka dan mencurahkan air hujan ke bumi, sedangkan Nabi Nuh bersama orang-orang yang beriman belayar di atas bahtera tanpa
isterinya dan Kan’an puteranya.

Mereka berdua menolak ketika Nabi Nuh memerintahkannya agar ikut bersama ke atas bahtera. Bahkan mereka berkata: “Aku akan mencari perlindungan ke gunung yang dapat menyelamatkan daku dari banjir!” (Hud ayat 43)

Banjir terlalu besar, hingga puncak gunung pun tenggelam. Maka tenggelamlah sang ibu bersama puteranya dalam gelombang banjir yang dahsyat. Kisah mereka di dalam Al-Quran sentiasa menjadi tanda dan peringatan bagi seluruh kaum mukminin bahwa petunjuk itu kadang-kadang terasa lebih jauh meskipun bagi orang yang paling dekat dengan pemberi petunjuk itu sendiri.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s